
Langsa, Wartapolri.com – Hujan yang Tak Lagi Menenangkan Bagi sebagian masyarakat, suara hujan yang seharusnya sebagai harmoni alam yang menenangkan. Namun, bagi warga di daerah rawan banjir, hujan justru menjadi alarm bahaya, kamis (8/1)
Setiap tetes air yang jatuh dari langit membawa kembali kenangan pahit: rumah berlumpur juga ada yang hanyut, sawah rusak, dan keluarga yang harus mengungsi. trauma ini nyata, dan ia hidup di benak masyarakat setiap kali langit mendung.
Akar Masalah karena alam yang Gundul,
bencana banjir bandang bukan sekadar fenomena alam. Ia adalah buah dari ketidak bijakan manusia dalam mengelola lingkungan.
Hutan dipegunungan yang gundul membuat tanah kehilangan daya serap, air hujan yang seharusnya meresap kebumi justru meluncur deras kepemukiman, masyarakat tahu, banjir bukan hanya takdir melainkan akibat dari rusaknya keseimbangan Alam.
Sayangnya perhatian pemerintah sering berhenti pada bantuan fisik seperti Sembako, tenda darurat dan perbaikan infrastruktur.
Padahal Ada luka yang tidak terlihat, trauma psikologi, rasa cemas berlebihan, ketakutan bilang mendengar turun nya hujan, hingga stres berkepanjangan menjadi beban yang menghantui, tanpa pedampingan mental masyarakat akan terus hidup dalam bayang-bayang bencana.
Pemerintah harus hadir bukan hanya sebagai pemberi bantuan logistik, tetapi juga sebagai penyembuh luka batin, program konseling trauma, pedampingan psikologi, hingga edukasi kesiapsiagaan bencana perlu dijalankan, dengan begitu masyarakat tidak hanya bertahan secara phisik, tetapi juga pulih secara mental.
Solusi kejiwaan harus berjalan beriringan dengan rehabilitasi lingkungan, reboisasi hutan, pengelolaan daerah aliran sungai, serta pemberdayaan masyarakat dalam menjaga alam.
Jika alam kembali seimbang hujan akan kembali dimaknai sebagai berkah bukan alarm ancaman
(Sayid Muhammad)

