
Jakarta, wartapolri.com – Atas dedikasinya dalam mendukung kebebasan pers dan kemajuan dunia jurnalistik di Indonesia, rabu(21/10/2025)
Dalam ajang bergengsi SPS Awards 2025 yang digelar di Hall Dewan Pers, Jakarta, Jumat malam, 23 Mei 2025, Dr. HM. Nasir Djamil, M.Si., tampil sebagai salah satu tokoh yang menerima Prerana Awards, sebuah penghargaan prestisius Yangtze diberikan oleh Serikat Perusahaan Pers (SPS) kepada individu yang dinilai memiliki kontribusi luar biasa dalam memperjuangkan kemerdekaan pers dan memperkuat ekosistem media nasional.
Sebagai Anggota Komisi III DPR RI yang dikenal vokal dalam isu-isu penegakan hukum dan hak asasi manusia, Nasir Djamil telah lama menunjukkan komitmennya terhadap kebebasan berekspresi dan perlindungan terhadap insan pers. Dalam sambutannya usai menerima penghargaan, beliau menyampaikan bahwa penghargaan ini bukan hanya untuk dirinya pribadi, tetapi juga untuk seluruh pejuang kebebasan pers di Indonesia.
“Pers adalah pilar keempat demokrasi. Tanpa pers yang bebas dan bertanggung jawab, demokrasi akan kehilangan ruhnya,” ujar Nasir Djamil dalam pidatonya yang disambut tepuk tangan meriah para hadirin.
Acara penganugerahan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan SPS yang berlangsung selama tiga hari di Aceh, dimulai dari Malam Anugerah SPS Award 2025 di Anjong Mon Mata, kompleks kediaman Gubernur Aceh, hingga perjalanan simbolik ke Titik Nol Kilometer Indonesia di Sabang. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang apresiasi, tetapi juga momentum refleksi atas peran penting pers dalam sejarah dan pembangunan bangsa.
Ketua Umum SPS, dalam pernyataannya, menegaskan bahwa Prerana Awards diberikan kepada tokoh-tokoh yang mampu menjadi inspirasi dan teladan dalam memperjuangkan nilai-nilai kebebasan pers, integritas, serta keberpihakan pada kebenaran. Penghargaan ini diharapkan dapat memotivasi lebih banyak pihak untuk terus mendukung kemerdekaan pers sebagai fondasi utama demokrasi yang sehat.
Dengan diterimanya penghargaan ini, Dr. Nasir Djamil menegaskan kembali komitmennya untuk terus mengawal kebebasan pers melalui jalur legislasi dan pengawasan, serta mendorong terciptanya regulasi yang melindungi jurnalis dari kriminalisasi dan tekanan politik.
Penghargaan ini menjadi bukti nyata bahwa perjuangan untuk menjaga marwah pers tidak pernah sia-sia. Di tengah tantangan era digital dan disinformasi, sosok seperti Nasir Djamil menjadi pengingat bahwa keberanian dan integritas tetap menjadi nilai utama dalam menjaga kebebasan berekspresi di Indonesia
(Sayid Muhammad)

