
Langsa, Wartapolri.com – Banjir ekstrem yang melanda Kota Langsa meninggalkan jejak kerusakan masif pada sistem produksi dan distribusi air bersih milik PDAM. Hampir seluruh peralatan vital—mulai dari intake, pompa hulu–hilir, elektromotor, panel listrik, hingga jaringan perpipaan—terendam banjir, tertutup lumpur, bergeser, bahkan sebagian rusak berat.
Akibatnya, layanan air bersih sempat lumpuh total pada fase awal bencana.
Direktur Turun Langsung ke Lapangan
Begitu air mulai surut, seluruh tim PDAM bergerak cepat melakukan pemulihan menyeluruh. Direktur PDAM Langsa bahkan turun langsung ke lokasi terdampak, memastikan setiap langkah penanganan berjalan.

“Saya melihat petugas rela meninggalkan kepentingan pribadi di rumah masing-masing demi memulihkan keadaan agar masyarakat kembali mendapatkan air bersih. Padahal kita semua sama-sama korban, rumah kita pun berlumpur,” tegasnya pada media ini, senin(8/12)

Ia menekankan bahwa kerja keras para petugas bukan sekadar kewajiban kedinasan, melainkan bentuk tanggung jawab moral terhadap masyarakat.
Listrik Kota Normal, Hulu Masih Terguncang
Meski listrik di pusat kota relatif stabil, wilayah hulu—lokasi instalasi pengolahan air—mengalami gangguan serius. Gardu PLN di kawasan tersebut terendam banjir hingga rusak berat, menyebabkan pasokan listrik hidup–mati berulang. PLN telah mengirimkan Gardu Induk Bergerak sebagai solusi darurat, namun kapasitasnya belum mampu menopang kebutuhan mesin berat pengolahan air. Upaya menaikkan arus daya pun dilakukan agar pompa dapat beroperasi lebih stabil.
Booster Pump Kecamatan Lumpuh
Kerusakan juga meluas ke stasiun Booster Pump di berbagai Unit Pelayanan kecamatan, termasuk Langsa Barat, Langsa Lama, Langsa Timur, dan Langsa Baro.
– Pompa booster terendam banjir
– Panel listrik rusak
– Rumah pompa tergenang karena terhubung langsung dengan reservoir bawah tanah
– Reservoir penuh lumpur dan sampah
Padahal, booster pump berfungsi vital menambah tekanan air ke wilayah ujung jaringan. Tanpa booster, tekanan dari pompa utama di hulu tidak mampu menembus hambatan distribusi.
Gangguan Teknis Beruntun
Selama proses normalisasi, berbagai gangguan teknis terus bermunculan: listrik padam mendadak, pompa konslet akibat kelembapan, pintu intake tersumbat lumpur, filter produksi tersumbat, hingga pipa induk besar di Desa Petow pecah. Kondisi ini membuat petugas harus bekerja siang malam tanpa henti.
Mengapa Normalisasi Tidak Bisa Instan?
PDAM menjelaskan bahwa normalisasi distribusi air bersih adalah proses panjang dan penuh risiko:
– Produksi air bersih dari lumpur ke air domestik butuh 3–4 jam sebelum dialirkan.
– Distribusi memakan waktu lebih dari 24 jam, tergantung elevasi tanah, tingkat pemakaian, dan kebocoran jaringan.
– Jika listrik atau pompa mati sebentar saja, seluruh jaringan kosong dan proses harus diulang dari awal.
– Kebocoran pipa, sedimen, dan friction loss memperlemah tekanan distribusi.
– Lonjakan pemakaian pasca banjir—untuk membersihkan rumah, lumpur, dan sanitasi—menyebabkan tekanan kolaps.
Prinsip hidrolika sederhana berlaku: air selalu mengalir dari tekanan tinggi ke rendah. Ketika energi tekanan hilang akibat kebocoran atau sedimen, wilayah terjauh tidak mendapat suplai, dan pemulihan menjadi sangat lambat.
Himbauan PDAM
PDAM mengajak masyarakat menggunakan air secara bijak serta melaporkan titik kerusakan pipa agar tekanan dapat stabil dan distribusi menjangkau wilayah paling jauh. Transparansi informasi dijaga melalui publikasi rutin di media sosial resmi perusahaan.
Meluruskan Isu Pemecatan Pegawai
PDAM juga menegaskan bahwa isu pemecatan pegawai tidak terkait dengan kebijakan manajemen.
Pegawai yang diberhentikan terbukti melakukan pelanggaran berat dan telah melalui proses peringatan sebelumnya. Isu yang beredar di luar dinilai tidak akurat.
Di tengah keterbatasan dan kerusakan masif, PDAM berharap media menyajikan informasi faktual dan berimbang, tidak menyudutkan pihak yang sedang berjuang memulihkan layanan.
(Sayid Muhammad)

