
Subulussalam, wartapolri.com ~ Kota Subulussalam kini menghadapi sorotan tajam dari berbagai pihak akibat prestasi pendidikannya yang terus merosot. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Rata-Rata Lama Sekolah (RLS) Kota Subulussalam menjadi yang terendah di antara 23 kabupaten/kota di Provinsi Aceh. Hal ini menempatkan Subulussalam di posisi terbawah, jauh tertinggal dibandingkan Kota Banda Aceh yang menempati puncak dengan angka RLS tertinggi, disusul oleh Kota Sabang dan Lhokseumawe.
Kondisi ini memicu keprihatinan dari berbagai kalangan, terutama Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Subulussalam (AMPeS), yang secara tegas menyampaikan kritik terhadap Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Subulussalam. Ketua AMPeS, Ikhwan Sambo, menyatakan bahwa lemahnya pengelolaan dan kurangnya prioritas pada sektor pendidikan menjadi salah satu faktor utama keterpurukan ini.
“Pendidikan di Subulussalam sangat memprihatinkan. Posisi RLS yang terendah ini jelas menggambarkan kegagalan pemerintah, terutama Dinas Pendidikan, dalam memajukan pendidikan. Kami meminta agar Plt Kadisdikbud segera melakukan evaluasi menyeluruh guna menyelesaikan krisis ini,” tegas Ikhwan Sambo.
Minim Fasilitas, Anak-Anak Kurang Bersemangat Belajar
Menurut Ikhwan, salah satu penyebab utama rendahnya RLS di Subulussalam adalah kurangnya perhatian terhadap fasilitas pendidikan, khususnya di wilayah pinggiran kota. Banyak sekolah yang menghadapi masalah kekurangan infrastruktur seperti gedung yang tak layak, kurangnya alat penunjang belajar, hingga minimnya tenaga pengajar berkualitas.
“Anak-anak di pinggiran kota kehilangan semangat belajar karena sekolah mereka tidak memiliki fasilitas yang memadai. Ini jelas menurunkan motivasi mereka untuk terus bersekolah,” jelas Ikhwan.
Kondisi ini tidak hanya berdampak pada angka RLS, tetapi juga meningkatkan risiko putus sekolah yang dapat memperparah tingkat pendidikan dan kemajuan masyarakat di Subulussalam.
AMPeS Dorong Perubahan Nyata
AMPeS menuntut agar pemerintah daerah menggencarkan upaya perbaikan, mulai dari penyediaan fasilitas sekolah, peningkatan mutu tenaga pengajar, hingga peluncuran program inovatif untuk menarik minat belajar siswa. Ikhwan juga menekankan pentingnya koordinasi antara pemerintah, masyarakat, hingga pihak swasta untuk mendukung kemajuan pendidik
“Ini bukan hanya tanggung jawab dinas pendidikan, tetapi tanggung jawab kita semua. Pemerintah harus menunjukkan prioritas yang jelas terhadap pendidikan, dengan memastikan anggaran yang cukup dialokasikan untuk memperbaiki sekolah-sekolah yang ada,” lanjut Ikhwan.
Harapan Masyarakat untuk Pendidikan yang Lebih Baik
Sementara itu, masyarakat Subulussalam terus berharap bahwa pemerintah daerah, khususnya Dinas Pendidikan, dapat segera bangkit dari keterpurukan ini. Pendidikan dianggap sebagai kunci utama untuk membangun generasi muda yang unggul, dan keterlambatan dalam penanganan hanya akan membuat masalah ini semakin sulit diselesaikan.
Fenomena rendahnya RLS ini menjadi pengingat keras bagi semua pihak bahwa pendidikan di Subulussalam membutuhkan perhatian serius serta langkah konkret. Evaluasi total, perencanaan matang, dan komitmen kuat menjadi kunci untuk membawa pendidikan Subulussalam ke level yang lebih baik.
Masyarakat kini menantikan aksi nyata pemerintah daerah, bukannya sekadar janji manis. Perubahan besar dibutuhkan agar Subulussalam tidak lagi tertinggal dalam prestasi pendidikan, dan generasi muda dapat memiliki masa depan yang lebih cerah.(*)
Laporan: Khalikul Sakda.

