Miris : Bertahan Hidup dengan Upah Minim, Keluarga Penjaga Kebun Sawit di Aceh Singkil Harapkan Bantuan Rumah Layak Huni

Aceh Singkil, wartapolri.com – Kisah pilu datang dari warga Desa Pea Bumbung Kecamatan Singkil Kabupaten Aceh Singkil, tepatnya di kediaman Bapak Duhani Manik (50), seorang penjaga kebun kelapa sawit yang harus berjuang menghidupi keluarganya dengan penghasilan minim. Bersama istrinya, Rosdiana Br Aceh 26, (45), mereka dikaruniai empat anak yang masih membutuhkan dukungan penuh untuk melanjutkan pendidikan.

Duhani bekerja di kebun sawit milik Pak Najrin Ar selama 5 tahun terakhir. Namun mirisnya, penghasilannya tidak berupa gaji bulanan. Ia hanya mendapatkan upah dari hasil borongan panen kelapa sawit, dengan tarif Rp300 ribu per ton. Dalam rata-rata satu bulan, hasil panenan sekitar 4 ton, sehingga total pendapatan yang diperoleh bapak Duhani hanya Rp1.200.000 per bulan. “Upah ini hanya cukup untuk makan sehari-hari, sementara untuk kebutuhan anak-anak seperti biaya sekolah, apalagi membangun rumah, rasanya tidak mungkin,” ujar Duhani sambil terisak haru.

Saat ini, keluarga Duhani tinggal di rumah sederhana milik pemilik kebun tempatnya bekerja. Ketiadaan dana membuat mereka belum mampu mendirikan rumah sendiri, meski telah memiliki tanah. Kondisi ini menyebabkan anak-anak mereka hidup dalam keterbatasan, tanpa ruang yang nyaman untuk belajar dan berkembang.

Keempat anak Duhani adalah mimpi keluarga untuk masa depan yang lebih baik. Anak pertama, Gusrani br manik (17), sedang duduk di kelas dua SMK Singkil Utara. Anak kedua, Hamdani Manik (16), juga berada di SMK kelas 1 Singkil Utara. Adik mereka, Hambali Manik (12), masih di bangku kelas 6 SD, sedangkan si bungsu, Hanafi Manik (8), sedang menempuh pendidikan di kelas 2 SD. Kondisi ekonomi keluarga yang sulit sangat membebani perjuangan mereka dalam meraih pendidikan yang layak.

Keluarga ini sangat berharap ada uluran tangan dari pihak terkait, terutama pemerintah daerah maupun organisasi sosial, untuk membantu mereka membangun rumah layak huni. Hal ini sangat penting demi kenyamanan anak-anak mereka, sekaligus menjadi langkah awal menuju kehidupan yang lebih baik.

Kisah ini merupakan pengingat bagi kita semua bahwa masih banyak keluarga di pelosok tanah air yang hidup dalam situasi sulit. Semoga penyaluran bantuan dapat segera dilakukan untuk meringankan beban keluarga bapak Duhani dan memberikan mereka kesempatan hidup yang lebih baik, ” harapnya.[]

Penulist : Khalikul Sakda.

Mungkin Anda Menyukai