
Aceh Singkil, wartapolri.com ~ Seiring semakin dekatnya pemilihan kepala daerah dalam hitungan hari lagi tepatnya 27 November 2024, Tentu saja pemimpin yang akan terpilih harus sama sama kita Support untuk mewujudkan Good Governance, yaitu pemerintahan yang baik, Namun sebelum hari itu tiba,
Sadryansyah Berutu, S.IP, yang lebih dikenal Sadry selaku Alumni Fisip USK, saat dikonfirmasi media wartapolri.com pada Rabu malam (30/10/2024).

Sadry mengatakan dan mengingatkan bahwa dengan semakin dekatnya menuju pilkadaini, maka kita harus sama sama menjaga stabilitas politik dan keamanan tanpa ada konflik yang berlebihan.
Akhir-akhir ini saya menyoroti beberapa berita dan isu isu politik yang muncul terutama di Aceh Singkil, ” ujarnya,
Lanjutnya Mulai dari Rekrutmen PPL yang diduga banyak masalah, sampai pada isu penggiringan opini terkait keterpihakan pemerintah dalam hal ini diisukan PJ Bupati yang memihak ke salah satu paslon yang ada di Aceh Singkil, ” ucapnya,
Dalam hal demikian tentunya dapat memicu konflik dikalangan masyarakat yang fanatik terhadap kandidat nya, munculnya keraguan terhadap pihak penyelenggara yang pastinya bila digoreng secara berlebihan akan mencoreng demokrasi di Aceh Singkil ” jelasnya,
Sadryansyah menambahkan Jujur saya juga pernah membuka ruang komunikasi terhadap ke 2 calon baik Oyon dan pasangannya, maupun Bengkek dan pasayangnnya. Baik oyon dan Bengkek sudah pernah memimpin Kabupaten Aceh Singkil, hemat pikir saya seharusnya para tim yang senior ini baik 01 dan 02 harusnya fokus pada pemilihan dan mencari simpatisan/pendukung serta pemilih tanpa harus menciptakan manajemen konflik yang berlebihan menyerang instansi atau pejabat supaya disoroti, bagi saya hal demikian sangat tidak etis untuk diteruskan apabila tidak adanya bukti yang kongkrit,” tangkasnya,
Selain itu Sadryansyah melihat secara perspektif anak muda dalam pergerakan politik yang dibangun baik 01 dan 02 sudah lumayan modis, menciptakan ruang publik dengan konsep politik ceria dan gembira. Begitu juga dalam pemanfaatan digitalisasi sebagai sarana politik modern, hanya saja saya sedikit miris ketika membuka kolom komentar terutama di platform TikTok, bahwa masing-masing pendukung saling hujat dan menjatuhkan, yang saya amati rata-rata akun yang toxic pada kolom komentar merupakan akun bodong/fake (palsu).
Sadryansyah menuturkan tidak bermaksud memojokkan salah satu tim pemenangan, oknum, atau bahkan kandidat sendiri yang memicu akan munculnya konflik sosial di Masyarakat Aceh singkil, saya paham kualitas dan kematangan berpolitik mereka diatas saya. Namun sebagai alumni Sarjana Ilmu Politik saya mencoba nimbrung dengan pemikiran sederhana ini, bahwa konsep politik radikal dan politik adu Domba bukan opsi yang terbaik untuk Aceh Singkil, adu Ide dan Gagasan, program, itu yang harus dimunculkan, Aceh Singkil harus Upgrade . Politik hanyalah seni dalam memerintah orang lain, melakukan sesuatu tanpa diperintah, “ungkapnya,
Seperti pesan Presiden Prabowo pada pidato kebangsaan saat dilantik “Demokrasi kita harus demokrasi yang santun yang cocok dengan adat dan budaya, Demokrasi kalau bertarung tampa membenci, koreksi tampa caci maki”.
Kata Sadryansyah diakhir penuturannya menyampaikan kepada kawan kawan, pemuda, pemilih cerdas, berpikir secara rasional bahwa untuk Aceh Singkil yang Upgrade harus memiliki pemimpin yang benar benar berjiwa pemimpin tidak hanya sebagai simbolis, tegas dalam bersikap dan rela berkorban untuk Aceh Singkil, tidak fokus mengandalkan APBK, persentase APBK lebih dari setengah sudah untuk belanja dan gaji pokok ASN setempat, bagaimana kedua kandidat dapat merasionalkan antara program dengan rumusan masalah tersebut, sehingga Aceh Singkil Upgrade silahkan teman teman dan masyarakat Cermati.” pungkasnya.{***}
Jurnalist : {Khalikul Sakda}

