Aksi Restorasi Lingkungan di Aceh Singkil, 2000 Pohon Ditanam untuk Ekologi dan Ekonomi Lokal

Aceh Singkil, wartapolri.com ~ Sebuah langkah monumental dalam upaya pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat diwujudkan di Kabupaten Aceh Singkil. Pada Kamis, 7 Agustus 2025, Kawasan Lae Terep, Desa Teluk Rumbia, Kecamatan Singkil ini, menjadi lokasi penanaman perdana 2000 pohon. Inisiatif ambisius ini tidak hanya menandai komitmen Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil terhadap keberlanjutan ekosistem, tetapi juga mengintegrasikan konservasi lingkungan dengan peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat lokal.

Wakil Bupati Aceh Singkil, H. Hamzah Sulaiman SH., memimpin langsung acara ini bersama jajaran pejabat daerah. Aksi penanaman pohon ini merupakan bagian dari program restorasi ekosistem yang lebih luas di area Teluk Rumbia.

Pendekatan Holistik: Konservasi Berbasis Masyarakat

Program ini istimewa karena pendekatannya yang holistik. Restorasi tidak hanya berfokus pada penanaman pohon, tetapi juga melibatkan partisipasi aktif masyarakat sebagai garda terdepan pelestarian.

Wakil Bupati Hamzah Sulaiman menyampaikan, “Harapan kami dengan rencana kita ini bisa berbuat untuk alam dan juga masyarakat sekitar.”

Pemilihan jenis bibit dilakukan secara cermat, dengan mempertimbangkan fungsi ekologis dan potensi ekonomi yang berkelanjutan.

Di antara 2000 pohon yang ditanam, terdapat varietas unggulan yang dipilih berdasarkan hasil penelitian dari Civil Society Organizations (CSO) yang merekomendasikan jenis tanaman yang paling sesuai dan bermanfaat bagi masyarakat.

Beberapa jenis pohon yang ditanam antara lain:

Pohon Rumbia (Sagu): Batangnya dapat diolah menjadi sagu dan daunnya dapat digunakan sebagai atap rumah.

Pandan Duri: Diharapkan dapat mendukung industri kreatif lokal, khususnya kerajinan tangan dari ibu-ibu rumah tangga untuk membuat tikar dan bakul.

Bambu: Tanaman serbaguna ini akan menjadi sumber bahan baku bagi berbagai produk kreatif dan industri lokal.

Keraton: Komoditas menjanjikan dengan nilai ekspor pada daunnya dan potensi bahan baku furnitur dari batangnya.

Jalur-jalur: Tanaman dengan sistem perakaran kuat yang sangat efektif untuk meminimalisir erosi tanah di bantaran sungai.

Mengatasi Tantangan Lingkungan dan Sosial di “Rawa Singkil”

Camat Singkil, Khairuddin SE., dalam sambutannya menyoroti sejarah panjang wilayah ini yang dikenal sebagai “Rawa Singkil” sebelum pemekaran kabupaten pada tahun 1999. Beliau juga tidak menampik adanya tantangan lokal, salah satunya adalah keberadaan buaya yang kerap menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat.

Camat Khairuddin menjelaskan bahwa ia telah berkomunikasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) mengenai masalah ini. BKSDA menyambut baik dan siap mendukung solusi, termasuk pengalihan fungsi sebagian area menjadi taman nasional atau area restorasi khusus buaya.

Rencana ini bertujuan menjaga keselamatan masyarakat tanpa mengabaikan konservasi satwa liar, dengan pengusulan area penangkaran seluas kurang lebih 4 hektar.

Mega-proyek penanaman 2000 pohon ini diharapkan dapat menjadi model bagi proyek restorasi di wilayah lain.

Kolaborasi antara pemerintah daerah, masyarakat, akademisi, dan organisasi non-pemerintah ini merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan ekologi dan ekonomi Kabupaten Aceh Singkil, ” pungkasnya.{*}

[Khalikul Sakda]

Mungkin Anda Menyukai