
Aceh Singkil, wartapolri.com – Akibat penanganannya yg belum mendapat perhatian Serius, dari pemerintah dimana terjadi abrasi sekitaran dipesisir pantai Desa Pulo Sarok Kecamatan Singkil Kabupaten Aceh Singkil,mulai dari warung kopi Wisata Danau Belibis (Wdb) hingga Rumah Azwirman, yang sangat memperihatinkan itu yang terdampak abrasi Rabu (13/03/2024).
bermula pasca Gempa Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) Singkil hingga Nias Maret 2005, setidaknya sudah disuarakan sejak tahun 2016.namun sampai hari ini masih belum mendapatkan penanganan yang serius

Menurut H. Ismail Lubis mengatakan kepada media ini saat dikonfirmasi, Kondisi pantai dan bangunannya WDB cafe sudah sangat memprihatinkan, pasalnya Air laut sudah memasuki semua teras tempat usaha hingga menjangkau jalan menuju ibu kota Jln. Bahari Jalur Dua dan ini tidak pernah terjadi sebelumnya,
Abrasi pantai itu merupakan fenomena yang harus diwaspadai, dimana sebagian penduduknya bermukim di tepi pantai itu.


Kepala Desa Pulo Sarok Yasmi Darliansyah meminta Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil agar serius menangani abrasi pantai, sehingga ke depan gelombang pasang tidak lagi menerjang rumah mereka,

Yasmi menyampaikan terkait abrasi yang melanda pesisir pantai di Desanya tersebut dirinya bersama unsur Muspida Kabupaten Aceh Singkil menunjukkan sejumlah puluhan rumah di pesisir pantai rusak akibat diterjang gelombang pasang
Peristiwa gelombang pasang hingga memicu abrasi ini sudah menjalani selama 6 tahun, namun di kawasan pesisir pantai ini kembali terjadi pada Rabu (08/03/2024) yang lalu sekira pukul 08.00 WIB, hingga saat ini, diperkirakan hingga tiga hari kedepan dan menimbulkan dampak terhadap puluhan rumah masyarakat yang terdampak,” Ucapnya
Menurut Yasmi, dari puluhan rumah warga yang masuk air laut dari arah dapur (belakang) hingga depan mengalami rusak terutama bagian teras rumah hingga warung tempat usaha warganya rusak akibat terjangan air laut.
Selain itu, gelombang laut juga memporak-porandakan sejumlah pohon kelapa tumbang diterjang gelombang pasang.
H. Ismail Lubis mengaku pihaknya sebelumnya telah melaporkan, kepada Pj Bupati, Bpbd, hingga Pupr. Tapi belum terlaksana, Kami berharap nantinya, meminta pemerintah daerah agar bisa segera melakukan kordinasi kepada pemprov atau Pusat, untuk bisa membangun break water di sepanjang pantai terutama di belakang rumah warga yang terdampak Abrasi.
“Hal senada juga Kepala Desa Pulo Sarok Yasmi Darliansyah mengatakan terkait abrasi yang melanda di pesisir pantai diDesanya tersebut ini selalu kita masuk kan menjadi usulan ke Kabupaten, namun kerna jumlah biaya yang terlalu besar, Dan Setiap ada musyawarah rencana pembangunan (Musrenbang) kecamatan kami sampaikan juga keluhan itu,
Menurut pantauan wartawan dimana terkait abrasi yang melanda dideretan pesisir pantai WDB ini sudah beberapa kali dipublikasikan namun pemerintah daerah belum meresponya, secara serius. paling-paling mereka turun sebentar melihat lokasi yang terdampak abrasi, setelah itu tenang,” jelasnya.
Dulu, kata Pak Ismail, jarak rumah warga dengan bibir pantai rata-rata 100 meter lebih. maka setiap memasuki musim barat, gelombang pasang terjadi dan memicu abrasi.
“Sebelum terjadi abrasi anak-anak bisa main bola kaki di pantai belakang rumah warga, karena dulu lokasi pantainya luas,” ujarnya.
Namun, lanjut dia, sekarang bibir pantai tersebut sudah berada di dalam dapur rumah hingga di teras rumah warga, dan bila tidak segera ditangani dengan serius maka bisa diprediksikan puluhan rumah masyarakat itu ikut diterjang gelombang pasang.
Khalikul Sakda
