Gelombang Demokrasi Nasional Usai: Seruan Reformasi Menggema dari Mahasiswa dan Komunitas Ojol

Jakarta, wartapolri.com – Gelombang Demokrasi Nasional yang berlangsung sejak akhir Agustus 2025 telah mencapai puncaknya, meninggalkan jejak kuat berupa tuntutan rakyat yang disuarakan oleh aliansi mahasiswa dan komunitas ojek online (ojol).

Aksi yang tersebar di lebih dari 100 titik di 32 provinsi ini bukan sekadar unjuk rasa, melainkan manifestasi keresahan publik terhadap stagnasi kebijakan dan ketimpangan sosial.

Dalam orasi yang menggema di depan Gedung DPR RI, massa menyampaikan aspirasi yang tegas: reformasi menyeluruh terhadap lembaga legislatif, kepolisian, dan pemerintahan pusat. Mereka menuntut agar DPR RI segera mengesahkan RUU Perampasan Aset, menolak kenaikan tunjangan anggota dewan, serta mendesak pencopotan Kapolri sebagai simbol pembenahan institusi penegak hukum.

Tragedi yang menimpa Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojol yang tewas dalam kericuhan di Pejompongan, menjadi titik balik yang menguatkan solidaritas nasional.

Kematian Affan bukan hanya duka, tetapi juga pemicu gelombang tuntutan keadilan dan reformasi aparat.

Aliansi mahasiswa dan komunitas ojol menegaskan bahwa rakyat tidak lagi membutuhkan janji manis yang tak berujung realisasi.

Mereka menuntut kerja nyata, kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan publik, serta keberanian politik untuk membongkar praktik oligarki dan korupsi yang mengakar.

Aksi ini menjadi pengingat bahwa suara rakyat, meski sering diabaikan, tetap memiliki daya untuk mengguncang fondasi kekuasaan. Kini, bola ada di tangan para pemimpin negeri: apakah mereka akan menjawab seruan ini dengan tindakan nyata, atau kembali membiarkan harapan rakyat terhempas oleh retorika kosong?

(Sayid Muhammad)

Mungkin Anda Menyukai